MAKALAH KESEHATAN TENTANG EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR
A. Pengantar
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang kedokteran
mendorong para tenaga ahli selalu mengadakan riset terhadap berbagai
penyakit termasuk salah satunya adalah penyakit menular demi mengatasi
kejadian penderitaan dan kematian akibat penyakit.
Pengertian Epidemiologi menurut asal kata, jika ditinjau dari asal kata
Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari 3 kata dasar
yaitu Epi yang berarti pada atau tentang, Demos yang berarti penduduk
dan kata terakhir adalah Logos yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi
Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang penduduk. Sedangkan
dalam pengertian modern pada saat ini adalah ilmu yang mempelajari
tentang frekuensi dan distribusi (penyebaran) serta determinant masalah
kesehatan pada sekelompok orang atau masyarakat serta determinasinya
(faktor-faktor yang mempengaruhinya).
B. Tiga Kelompok utama penyakit menular
1. Penyakit yang sangat berbahaya karena angka kematian sangat tinggi
2. penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan kematian dan cacat, walaupun akibatnya lebih ringan dari yang pertama
3. Penyakit menular yang jarang menimbulkan kematian dan cacat tetapi dapat mewabah yang menimbulkan kerugian materi.
C. Tiga Sifat Utama Aspek Penularan Penyakit Dari Orang Ke Orang
1. Waktu Generasi (Generation Time)
Masa antara masuknya penyakit pada pejamu tertentu sampai masa kemampuan
maksimal pejamu tersebut untuk dapat menularkan penyakit. Hal ini
sangat penting dalam mempelajari proses penularan. Perbedaan masa tunas
ditentukan oleh masuknya unsur penyebab sampai timbulnya gejala penyakit
sehingga tidak dapat ditentukan pada penyakit dengan gejala yang
terselubung, sedangkan waktu generasi untuk waktu masuknya unsur
penyebab penyakit hingga timbulnya kemampuan penyakit tersebut untuk
menularkan kepada pejamu lain walau tanpa gejala klinik / terselubung.
2. Kekebalan Kelompok (Herd Immunity)
Kekebalan kelompok adalah kemampuan atau daya tahan suatu kelompok
penduduk tertentu terhadap serangan/penyebaran unsur penyebab penyakit
menular tertentu didasarkan tingkat kekebalan sejumlah tertentu anggota
kelompok tersebut.
Herd immunity merupakan factor utama dalam poses kejadian wabah di
masyarakat serta kelangsungan penyakit pada suatu kelompok penyakit
tertentu.
Wabah terjadi karena 2 keadaan
a. Keadaan kekebalan populasi yakni suatu wabah besar dapat terjadi jika
agent penyakit infeksi masuk ke dalam suatu populasi yang tidak pernah
terpapar oleh agen tersebut / kemasukan suatu agen penyakit menular yang
sudah lama absent dalam populasi tersebut.
b. Bila populasi tertutup seperti asrama, barak dimana keadaan sangat
tertutup dan mudah terjadi kontak langsung masuknya sejumlah orang-orang
yang peka terhadap penyakit tertentu dalam populasi tersebut.
3. Angka Serangan (Attack Rate)
Adalah sejumlah kasus yang berkembang atau muncul dalam satu satuan
waktu tertentu dikalangan anggota kelompok yang mengalami kontak serta
memiliki resiko / kerentanan terhadap penyakit tersebut.
Angka serangan ini bertunjuan untuk menganalisis tingkat penularan dan
tingkat keterancaman dalam keluarga, dimana tata cara dan konsep
keluarga, system hubungan keluarga dengan masyarakat serta hubungan
individu dalam kehidupan sehari-hari pada kelompok populasi tertentu
merupakan unit Epidemiologi tempat penularan penyakit berlangsung.
D. Manisfestasi Klinik Secara Umum
1. Spektrum penyakit menular
Pada proses penyakit menular secara umum dijumpai berbagai manifestasi
klinik, mulai dari gejala klinik yang tidak tampak sampai keadaan yang
berat disertai komplikasi dan berakhir cacat / meninggal dunia.
Akhir dari proses penyakit adalah sembuh, cacat atau meninggal
2. Infeksi terselubung (tanpa gejala klinis)
Adalah keadaan suatu penyakit yang tidak menampakan secara jelas dan
nyata dalam bentuk gejala klinis yang jelas sehingga tidak dapat di
diagnosa tanpa cara tertentu seperti tes tuberkolin, kultur tenggorokan,
pemeriksaan antibody dalam tubuh dan lain-lain.
E. Gambar Penyebaran Karakteristik Manistestasi Klinik
Dari 3 jenis penyakit menular
1. Lebih banyak dengan tanpa gejala klinik (terselubung) contoh: tubekulosis, poliomyelitis, hepatitis A
2. Lebih banyak dengan gejala klinik jelas contoh: measles, chiceplax
3. Penyakit yang umumnya berakhir dengan kematian contoh: rabies
F. Komponen Proses Penyakit Menular
1. Faktor penyebab Penyakit Menular
Pada proses perjalanan penyakit menular di dalam masyarakat sektor yang memegang peranan pentingya adalah:
a. Faktor penyebab / agent yaitu organisme penyebab penyakit menular
b. Sumber penularan yaitu reservoir maupun resources
c. Cara penularan khusus melalui mode of transmission
Unsur penyebab dikelompokan dalam:
1. Kelompok arthropoda (serangga) seperti scabies, pediculosis dll
2. Kelompok cacing / helminth baik cacing darah maupun cacing perut
3. Kelompok protozoa seperti plasmodium, amuba, dll
4. Fungus / jamur baik ini maupun multiseluler
5. Bakteri termasuk spirochaeta maupun ricketsia
6. Virus dengan kelompok penyebab yang paling sederhana
Sumber penularan:
1. Penderita
2. Pembawa kuman
3. Binatang sakit
4. tumbuhan / benda
Cara penularan:
1. Kontak langsung
2. Melalui udara
3. Melalui makanan / minuman
4. Melalui vector
Keadaan penderita
1. Keadaan umum
2. Kekebalan
3. Status gizi
4. Keturunan
Cara keluar dari sumber dan cara masuk ke penderita melalui
1. Mukosa / kulit
2. Saluran Pencernaan
3. Saluran Pernapasan
4. Saluran Urogenitalia
5. Gigitan suntikan, luka
6. Plasenta
Interaksi penyakit dengan penderita
1. Infektivitas
Adalah kemampuan unsur penyebab / agent untuk masuk dan berkembang biak serta menghasilkan infeksi dalam tubuh pejamu
2. Patogenesis
Adalah kemampuan untuk menghasilkan penyakit dengan segala klinis yang jelas
3. Virulensa
Adalah nilai proporsi penderita dengan gejala klinis yang jelas terhadap seluruh penderita dengan gejala klinis jelas
4. Imunogenisitas
Adalah suatu kemampuan menghasilkan kekabalan / imunitas
Mekanisme potogenesis
1. Inuasi jaringan secara langsung
2. Produk toksin
3. Rangsangan imunologis / reaksi alergi yang menyebabkan kerusakan pada tubuh pejamu
4. Infeksi yang menetap (infeksi paten)
5. Merangsang kerentanan penjamu terhadap obat dalm menetralinsa toksisitas
6. Ketidakmampuan membentuk daya tangan
Sumber penularan
1. Manusia sebagai reservoir
2. Reservoir binatang / benda lain
Penyakit utama dan reservoir utamanya untuk
- Pes tikus
- Rabies
- Leptospirosis tikus
- Virus encephlitides kuda
- Trichnosis babi dll
Melihat perjalanan penyakit pada penjamu, bentuk pembawa kuman (carrier) dapat dibagi dalam beberapa jenis.
1. Healthy carrier (inapparent)
2. Incubatory carrier(masa tunas)
3. Convalescent carrier (baru sumber klinis)
4. Chronis carrier (menahun)
Manusia dalam kedudukannya sebagai reservoir penyalur menular di bagi dalam 3 kategori utama yaitu:
1. Reservoir yang umumnya selalu muncul sebagai penderita
2. Reservoir yang dapat sebagai penderita maupun sebagai carrier
3. Reservoir yang umumnya selalu bersifat penderita akan tetapi dapat
menularkan langsung penyakitnya ke penderita potensial lainnya, tetapi
harus melalui perantara hidup
KESIMPULAN
Epidemiologi untuk ilmu yang mempelajari tentang penduduk. Sedangkan
epideminologi dalam arti modern untuk ilmu yang mempelajari: tentang
frekuensi dan distribusi (penyebaran) serta determinant masalah
kesehatan pada sekelompok orang / masyarakat serta determinannya
(faktor-faktor yang mempelajari)
Contoh penyakit menular dapat tertular melalui 2 cara yaitu dengan cara
kontak langsung dan lewat factor. Contoh penyakit yang melalui kontak
langsung yaitu penyakit TBC. ISPA Kusta dan Campak. Sedangkan yang
melalui factor yaitu penyakit Malaria, filiariasis, dan DHF.
DAFTAR PUSTAKA
1. Budiarto, Eko. 2003, Pengantar Epidemiologi. Jakarta: penerbit buku kedokteran egc.
2. Bustan Mn. 2002. Pengantar epidemiologi. Jakarta Rineka Cipta
3. Nasry, Nur Dasar-Dasar Epidemiologi
Diposkan oleh Dauzz simolol di 03:36
MAKALAH EPIDEMIOLOGI KONSEP INVESTIGASI WABAH
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejarah dirintisnya metode investigasi wabah dimulai dengan adanya
penemuan kuman cholera oleh john snow sehingga ia terkenal dengan metode
investigasi wabah cholera di London ( 1854 ).
Wabah adalah suatu keadaan ketika dimana kasus penyakit atau
peristiwa yang lebih banyak daripada yang diperkirakan dalam suatu
periode waktu tertentu di area tertentu atau diantara kelompok tertentu.
Disebuah fasilitas pelayanan kesehatan dugaan terhadap suatu wabah
mungkin muncul ketika aktivitas surveilans rutin mendeteksi adanya suatu
kluster kasus yang tidak biasa atau terjadinya peningkatan jumlah kasus
yang signifikan dari jumlah biasanya.
Ketika dokter mendiagnosa suatu penyakit yang tidak biasa, ketika
dokter, perawat , atau petugas laboraturium yang menyadari terjadinya
serangkaian kluster kasus. Kluster kasus adalah kelompok kasus penyakit
atau peristiwa kesehatan lain yang terjadi dalam rentang waktu dan
tempat yang berdekatan. Didalam suatu kluster banyaknya kasus dapat
melebihi jumlah yang diperkirakan, umumnya jumlah yang diperkirakan
tidak diketahui.
1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah tugas dari mata kuliah
epidemiologi dan menambah wawasan penulis tentang epidemiologi khususnya
tentang Investigasi Wabah.
1.3 Rumusan Masalah
- Apa yang dimaksud dengan investigasi wabah ?
- Kriteria kerja wabah/ KLB ?
- Langkah dalam melakukan investigasi wabah ?
- Tujuan penyelidikan wabah/ KLB ?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Investigasi Wabah
Secara umum Wabah dapat diartikan sebagai kejadian penyakit melebihi
dari normal (kejadian yang biasa terjadi). Banyak definisi yang
diberikan mengenai wabah baik kelompok maupun para ahli diantaranya :
- Wabah adalah penyakit menular yang terjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang didaerah luas ( KBBI : 1989 ).
- Wabah adalah peningkatan kejadian kesakitan atau kematian yang telah
meluas secara cepat, baik jumlah kasusnya maupun daerah terjangkit (
depkes RI, DirJen P2MPLP : 1981).
- Wabah adalah kejadian terjangkitnya suatu penyakit menular dalam
masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari
keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat
menimbulkan malapetaka ( UU RI No. 4 tahun 1984 ).
- Wabah adalah terdapatnya penderita suatu penyakit tertentu pada
penduduk suatu daerah, yang nyata jelas melebihi jumlah biasa ( Benenson
: 1985 )
- Wabah adalah timbulnya kejadian dalam suatu masyarakat, dapat berupa
penderita penyakit, perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, atau
kejadian lain yang berhubungan dengan kesehatan yang jumlahnya lebih
banyak dari keadaan biasa ( Last : 1981 )
Selain kata wabah dikenal pula letusan ( outbreak ) apabila
kejadian tersebut terbatas dan dapat ditanggulangi sendiri oleh
pemerintah daerah dan kejadian luar biasa ( KLB ) apabila
penanggulangannya membutuhkan bantuan dari pemerintah pusat ( DirJen
P2MPLP tahun 1981 ). Di Indonesia pernyataan adanya wabah hanya boleh
ditetapkan oleh mentri kesehatan.
2.1.1 Tiga komponen wabah :
- Kenaikan jumlah penduduk
- Kelompok penduduk disuatu daerah
- Waktu tertentu
2.1.2 Alasan melakukan penyelidikan adanya kemungkinan wabah :
- Mengadakanpenanggulangan dan pencegahan
a) Ganas tidaknya penyakit
b) Sumber dan cara penularan
c) Ada atau tidaknya cara penanggulangan dan pencegahan
- Kesempatan mengadakan penelitian dan pelatihan
- Pertimbangan program
- Kepentingan umum, politik, dan hukum
2.2 Kriteria Kerja Wabah / KLB
Kepala wilayah / daerah setempat yang mengetahui adanya tersangka
wabah (KJB penyakit menular) diwilayahnya atau tersangka penderita
penyakit yang dapat menimbulkan wabah, wajib seera melakukan tindakan –
tindakan penanggulangan seperlunya, dengan bantuan unit kesehatan
setempat, agar tidak berkembang menjadi wabah (UU No. 4 dan PerMenKes
560/ MenKes/ Per/ VIII/ 1989).
Suatu kejadian penyakit atau keracunan dapat dikatakan KLB apabila memenuhi kriteria sebagai berikut :
- Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada/ tidak dikenal.
- Peningkatan kejadian penyakit/ kematian terus – menerus selama tiga
kurun waktu berturut – turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari,
minggu).
- Peningkatan kejadian penyakit/ kematian, dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, minggu, bulan, tahun).
- Jumlah penderita baru dalam suatu bulan menunjukan kenaikan dua kali
atau lebih dibandingkan dengan angka rata – rata perbulan dalam tahun
sebelumnya.
- Angka rata – rata perbulan selama satu tahun menunjukan kenaikan dua
kali lipat atau lebih dibandingkan dengan angka rata – rata perbulan
dari tahun sebelumnya.
- Case fatality rate ( CFR ) suatu penyakit dalam suatu kurun
waktu tertentu menunjukan kenaikan 50% atau lebih, dibandingkan dengan
CFR dari periode sebelumnya.
- Proportional rate ( PR ) penderita dari suatu periode tertentu menunjukan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan periode,
- kurun waktu atau tahun sebelumnya.
-
Beberapa penyakit khusus menetapkan kriteria khusus : cholera dean demam berdarah dengue.
- Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya ( pada daerah endemis ).
- Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode empat
minggu sebelumnya, daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang
bersangkutan.
- Beberapa penyakit seperti keracunan, menetapkan satu kasus atau lebih sebagai KLB.
- Keracunan makanan
- Keracunan pestisida
- Satu kenaikan yang kecil dapat saja merupakan KLB yang perlu
ditangani seperti penyakit poliomylitis dan tetanus neonatorum kasus
dianggap KLB dan perlu penanganan khusus.
Peningkatan jumlah kasus atau penderita yang dilaporkan belum tentu suatu wabah (pseudo epidemik) karena peningkatan penderita tersebut bisa karena :
- Perubahan cara pencatatan
- Ada cara – cara dignosis baru
- Bertambahnya kesadaran penduduk untuk berobat
- Ada penyakit lain dengan gejala sama
- Jumlah penduduk bertambah
2.3 Langkah Investigasi wabah
Langkah melakukan investigsi wabah dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang sistemik yang terdiri dari :
2.3.1 Persiapan Investigasi di Lapangan
Persiapan dapat dikelompokkan dalam 3 kategori yaitu:
a) Investigasi : pengetahuan ilmiah perlengkapan dan alat
b) Administrasi : prosedur administrasi termasuk izin dan pengaturan
perjalanan
c) Konsultasi : peran masing – masing petugas yang turun kelapangan
2.3.2 Pemastian Adanya Wabah
Dalam mementukan apakah wabah, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a) Dengan membandingkan jumlah yang ada saat itu dengan jumlah beberapa minggu atau bulan sebelumnya.
b) Menentukan apakah jumlah kasus yang ada sudah melampaui jumlah yang diharapkan.
c) Sumber informasi bervariasi bergantung pada situasinya
- Catatan hasil surveilans
- Catatan keluar dari rumah sakit, statistic kematian, register, dan lain-lain.
- Bila data local tidak ada, dapat digunakan rate dari wilayah di dekatnya atau data nasional.
- Boleh juga dilaksanakan survey di masyarakat menentukan kondisi penyakit yang biasanya ada.
d) Pseudo endemik ( jumlah kasus yang dilaporkan belum tentu suatu wabah ) :
- Perubahan cara pencatatan dan pelaporan penderita
- Adanya cara diagnosis baru
- Bertambahnya kesadaran penduduk untuk berobat
- Adanya penyakit lain dengan gejala yang serupa
- Bertambahnya jumlah penduduk yang rentan
2.3.3 Pemastian Diagnosis
Semua temuan secara klinis harus dapat memastikan diagnosis wabah, hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :
a) Untuk memastikan bahwa masalah tersebut telah didiagnosis dengan patut
b) Untuk menyingkirkan kesalahan laboraturium yang menyebabkan peningkatan kasus yang dilaporkan
c) Semua temuan klinis harus disimpulakan dalam distribusi frekuensi
d) Kunjungan terhadap satu atau dua penderita
2.3.4 Pembuatan Definisi Kasus
Pembuatan definisi kasus adalah seperangkat criteria untuk menentukan
apakah seseorang harus dapat diklasifikasikan sakit atau tidak.
Kriteria klinis dibatasi oleh waktu, tempat, dan orang. Penyelidikan
sering membagi kasus menjadi pasti ( compirmed), mungkin ( probable), meragukan ( possible ), sensivitasdan spefsifitas.
2.3.5 Penemuan dan Penghitungan Kasus
Metoda untuk menemukan kasus yang harus sesuai dengan penyakit dan
kejadian yang diteliti di fasilitas kesehatan yang mampu memberikan
diagnosis. Informasi berikut ini dikumpulakan dari setiap kasus :
a) Data identifikasi ( nama, alamat, nomor telepon )
b) Data demografi ( umur, jenis kelamin, ras, dan pekerjaan )
c) Data klinis
d) Faktor risiko, yang harus dibuat khusus untuk tiap penyakit
e) Informasi pelapor untuk mendapatkan informasi tambahan atau member umpan balik
2.3.6 Epidemiologi Deskriptif
2.3.6.1 gambaran waktu berdasarkan waktu
Perjalanan wabah berdasarkan waktu digamabarkan dengan grafik histogram yang berbentuk kurva epidemic, gambaran ini membantu :
a) Member informasi samapai dimana proses wabah itu dan bagaimana kemungkinan kelanjutannya
b) Memperkirakan kapan pemaparan terjadi dan memusatkan
penyelidikan pada periode tersebut, bila telah diketahui penyakit dan
masa inkubasinya.
c) Menarik kesimpulan tentang pola kejadian, dengan demikian
mengetahui apakah bersumber tunggal, ditularkan dari orang ke orang,
atau campuran keduanya
Kemungkinan periode pemaparan dapat dilakukan dengan :
a) Mencari masa inkubasi terpanjang, terpendek, dan rata-rata
b) Menentukan puncak wabah atau kasus mediannya, dan menghitung mundur satu masa inkubasi rata-rata
c) Dari kasus paling awal kejadian wabah, dihitung mundur masa inkubasi terpendek
Masa inkubasi penyakit adalah waktu antara masuknya agens penyakit
sampai timbulnya gejala pertama. Informasi tentang masa inkubasi
bermanfaat billa penyakit belum diketahui sehingga mempersempit
diagnosis diferensial dam memperikan periode pemaparan. Cara menghitung
median masa inkubasi :
a) Susunan teratur ( array) berdasarkan waktu kejadiannya
b) Buat frekuensi kumulatifnya
c) Tentukan posisi kasus paling tengah
d) Tentukan kelas median
e) Median masa inkubasiditentukan dengan menghitung jarak antara waktu pemaparan dan kasus median
2.3.6.2 gambaran wabah berdasarkan tempat
Gambaran wabah berdasarkan tempat menggunakan gambaran grafik
berbentuk Spot map. Grafik ini menunjukkan kejadian dengan titik/symbol
tempat tertentu yang menggambarkan distribusi geografi suatu kejadian
menurut golongan atau jenis kejadian namun mengabaikan populasi.
2.3.6.3 Gambaran wabah berdasarkan ciri orang
Variable orang dalam epidemiologi adalah karakteristik individu yang
ada hubungannya dengan keterpajanan atau kerentanan terhadapa suatu
penyakit.Misalnya karakteristik inang ( umur, jenis kelamin, ras/suku,
status kesehatan) atau berdasarkan pemaparan ( pekerjaan, penggunaan
obat-obatan)
2.3.7 Pembuatan Hipotesis
Dalam pembuatan suatu hipotesis suatu wabah, hendaknya petugas
memformulasikan hipotesis meliputi sumber agens penyakit, cara
penularan, dan pemaparan yang mengakibatkan sakit.
a) Mempertimbangkan apa yang diketahui tentang penyakit itu:
- Apa reservoir utama agen penyakitnya?
- Bagaimana cara penularannya?
- Bahan apa yang biasanya menjadi alat penularan?
- Apa saja faktor yang meningkatkan risiko tertular?
b) Wawancara dengan beberapa penderita
c) mengumpulkan beberapa penderita mencari kesamaan pemaparan.
d) Kunjungan rumah penderita
e) Wawancara dengan petugas kesehatan setempat
f) Epidemiologi diskriptif
2.3.8 Penilaian Hipotesis
Dalam penyelidikan lapangan, hipotesis dapat dinilai dengan salah satu dari dua cara
a) Dengan membandingkan hipotesis dengan fakta yang ada, atau
b) Dengan analisis epidemiologi untuk mengkuantifikasikan hubungan dan menyelidiki peran kebetulan.
c) Uji kemaknaan statistik, Kai kuadrat.
2.3.9 Perbaikan hipotesis dan penelitian tambahan
Dalam hal ini penelitian tambahan akan mengikuti hal dibawah ini
a) Penelitian Epidemiologi ( epidemiologi analitik )
b) Penelitian Laboratorium ( pemeriksaan serum ) dan Lingkungan (pemeriksaan tempat pembuangan tinja )
2.3.10 Pengendalian dan Pencegahan
Pengendalian seharusnya dilaksanakan secepat mungkin upaya
penanggulangan biasanya hanya dapat diterapkan setelah sumber wabah
diketahui Pada umumnya, upaya pengendalian diarahkan pada mata rantai
yang terlemah dalam penularan penyakit. Upaya pengendalian mungkin
diarahkan pada agen penyakit, sumbernya, atau reservoirnya.
2.3.11 Penyampaian Hasil Penyelidikan
Penyampaian hasil dapat dilakukan dengan dua cara pertama Laporan
lisan pada pejabat setempat dilakukan di hadapan pejabat setempat dan
mereka yang bertugas mengadakan pengendalian dan pencegahan dan yang
kedua laporan tertulis.Penyamapin penyelidikan diantaranya
a) Laporan harus jelas, meyakinkan, disertai rekomendasi yang tepat dan beralasan
b) Sampaikan hal-hal yang sudah dikerjakan secara ilmiah; kesimpulan dan saran harus dapat dipertahankan secara ilmiah
c) Laporan lisan harus dilengkapi dengan laporan tertulis,
bentuknya sesuai dengan tulisan ilmiah (pendahuluan, latar belakang,
metodologi, hasil, diskusi, kesimpulan, dan saran)
d) Merupakan cetak biru untuk mengambil tindakan
e) Merupakan catatan dari pekerjaan, dokumen dari isu legal, dan
merupakan bahan rujukan apabila terjadi hal yang sama di masa datang .
2.4 tujuan penyelidikan wabah / KLB
2.4.1 Tujuan umum penyelidikan KLB / wabah
a) Upaya penanggulangan dan pencegahan
b) Surveilans ( lokal, nasional, dan internasional )
c) Penelitian
d) Pelatihan
e) Menjawab keingintahuan masyarkat
f) Pertimbangan program
g) Kepentingan politik dan hukum
h) Kesadaran masyarakat
2.4.2 Tujuan khusus penyelidikan KLB / wabah
a) Memastikan diagnosa
b) Memastikan bahwa terjadi KLB/ wabah
c) Mengidentifikasi penyebab KLB
d) Mengidentifikasi sumber penyebab
e) Rekomendasi : cepat dan tepat
f) Mengetahui jumlah korban dan populasi rentan, waktu dan
periode KLB, serta tempat terjadinya KLB ( variabel orang, waktu dan
tempat )
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Wabah adalah suatu keadaan ketika dimana kasus penyakit atau
peristiwa yang lebih banyak daripada yang diperkirakan dalam suatu
periode waktu tertentu di area tertentu atau diantara kelompok tertentu.
Dan dugaan terhadap suatu wabah mungkin muncul ketika aktivitas
surveilans rutin mendeteksi adanya suatu kluster kasus yang tidak biasa
atau terjadinya peningkatan jumlah kasus yang signifikan dari jumlah
biasanya dan diperlukan upaya evaluasi pada suatu masalah yang potensial
atau memulai investigasi.
3.2 Saran
Investigasi wabah adalah peristiwa yang lebih banyak dari biasanya,
misalnya wabah DBD. Mencegah lebih baik daripada mengobati, maka dari
itu investigasi wabah dilakukan untuk mencegah KLB yang bisa saja
terjadi di kemudian hari.